Festival Gemeoh Ditutup dengan Tradisi Melayu yang Unik
Ketua Panitia Festival Melayu Gemeoh, Sadli (Ist)

Festival Gemeoh Ditutup dengan Tradisi Melayu yang Unik

Oleh Bahroni • 17 November 2025

Advetorial DPRD Kutai Barat

Kutai Barat - Penyelenggaraan Festival Melayu Gemeoh 2025 di Kecamatan Melak, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), berakhir dengan kemeriahan. Setelah rangkaian kegiatan berlangsung hampir sepekan, penutupan festival ditandai dengan tradisi Melayu yang unik, Makan Bekeroboq dan Becolek Pupur Basah, yang digelar di ruas Jalan Gunung Aji, Senin (17/11/2025).

 

Sepanjang area acara, warga dari berbagai kampung di wilayah Kecamatan Melak, berkumpul dan berbaur. Hidangan disajikan memanjang di tengah jalan, sementara di sisi lain tawa dan sorak kian pecah ketika ritual saling mengolesi pupur basah dimulai. Tradisi khas Melayu ini menjadi simbol kehangatan dan kebersamaan yang sejak dulu melekat pada masyarakat Melak.

 

Ketua Panitia Festival Gemeoh, Sadli, menyampaikan bahwa pelaksanaan tahun ini berjalan jauh lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menyebut apresiasi masyarakat menjadi indikator utama keberhasilan acara.

 

“Kalau saya pribadi, itu kepuasan masyarakat. Yang menilai masyarakat, bukan kita sendiri. Jadi selama pelaksanaan, yang kita rasakan, yang kita lihat dan yang kita dengar, bahwa Alhamdulillah tingkat kepuasan masyarakat cukup tinggi,” kata Sadli.

 

Ia menambahkan, antusiasme tersebut terlihat sejak hari pertama. Kirab budaya yang menjadi pembuka festival mencatat jumlah peserta yang lebih banyak dari sebelumnya. Begitu pula pada malam kesenian, jumlah penampil meningkat dan panggung hiburan selalu dipadati penonton.

 

“Tahun ini dianggap lebih meriah dari Gemeoh sebelumnya. Itu sih kebanyakan tanggapan dari masyarakat,” ujar Anggota DPRD Kubar tersebut.

 

Puncak keramaian Festival Gemeoh benar-benar terlihat sejak rangkaian kegiatan jalan santai dan Kobar Bejagur, yang berhasil menarik ribuan peserta dan penonton di halaman Kantor Kecamatan Melak.

 

Antusiasme itu kembali berlanjut pada hari penutupan, ketika warga memadati Jalan Gunung Aji untuk mengikuti tradisi Makan Bekeroboq dan Becolek Pupur Basah. Dua tradisi khas Melayu tersebut menjadi penutup yang mencolok, memperlihatkan bagaimana masyarakat hadir tanpa sekat hingga akhir acara.

 

Festival Melayu Gemeoh kembali menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat yang kuat di tengah masyarakat. Selain menjadi ajang interaksi sosial, acara ini mempertegas upaya menjaga identitas budaya Melayu di Kecamatan Melak. Dengan tingkat partisipasi yang tinggi, festival ini diperkirakan akan terus berkembang dan menjadi agenda tahunan yang semakin ditunggu warga. 

👁️ 814 kali dibaca

Tinggalkan Komentar

Memuat cuaca berdasarkan lokasi Anda...

Logo Portal