SANGATTA – Upaya Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kutai Timur untuk menjadi pusat rujukan utama pemeriksaan penyakit menular masih menemui sejumlah kendala. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Labkesda Kutim, Gregorius Gebo, mengungkapkan bahwa fasilitas alat yang belum lengkap serta persyaratan administrasi yang belum terpenuhi membuat peran Labkesda belum dapat berjalan maksimal sebagaimana yang diharapkan pemerintah daerah.
Menurut Gregorius, idealnya Labkesda mampu menangani pemeriksaan lanjutan untuk penyakit seperti Tuberkulosis (TBC) dan HIV. Namun saat ini, proses deteksi awal TBC masih bergantung pada Puskesmas karena telah memiliki tenaga terlatih dan perangkat surveillance. Sementara Labkesda, meski sudah memiliki ruangan berstandar Biosafety Level 2 (BSL-2), belum memiliki alat Tes Cepat Molekuler (TCM) yang menjadi instrumen penting dalam analisis TBC.
“Sebenarnya diharapkan ke depannya kami menjadi rujukannya dengan TCM, tetapi alat itu belum kami miliki,” jelasnya.
Tak hanya terkendala alat, Labkesda juga belum dapat bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Hal ini berdampak langsung pada pasien pemegang BPJS yang belum bisa mengakses layanan Labkesda secara gratis.
“Kami MOU belum bisa sama BPJS. Jadi pasien BPJS belum bisa ke sini,” ujar Gregorius.
Syarat utama kerja sama dengan BPJS adalah keberadaan dokter spesialis Patologi Klinik. Namun posisi tersebut hingga kini belum tersedia di Labkesda Kutim. Kondisi ini menyebabkan sejumlah layanan seperti Prolanis, yang seharusnya dapat ditanggung BPJS, masih harus dibayar mandiri oleh pasien.
“Kami harus punya dokter patologi klinik, sementara kami belum punya,” pungkasnya. (Adv)